Barangkali

Untukmu, Barangkali…

Barangkali memang ada beberapa hal yang sengaja kita biarkan mengendap untuk menjaga perasaan atau hal-hal yang tidak kita persiapkan. Kita, tepatnya aku, sedang dalam pencaharian tentang kita, tentang apa dan bagaimana kita? Mungkin kamu bisa membantuku menjawab apa arti kita bagimu? Sebab aku kehabisan ide mengartikan kita.

Kita saling mencari ketika butuh, tapi kita lupa bahwa saling membutuhkan dapat menjadi alasan seseorang untuk berhenti mencari.

Lagi-lagi banyak pertanyaan di kepala, kepalaku ini rumit tapi kamu mampu menerjemahkannya. Cukup semarak cerita yang kita bagi, tentang malam dan bintang-bintang pemalu, tentang keterasingan kita pada masa lalu. Masa yang tak pernah mampu kita tuju tapi pahitnya masih jelas kita kecap.

Seluruh isi kepala kita yang bahkan belum sepenuhnya kita jelajahi, kita tak pernah tahu apa yang kita mau.

Kamu haus, mari istirahat sebentar. Sambil kuceritakan satu kisah padamu, tentang seseorang yang lupa merasa, dibunuhnya beberapa mimpi, dijalaninya hari-hari tanpa ambisi. Hanya jalan, tapi dia tahu, setiap mimpi yang dibunuh akan lahir kembali, lebih besar, lebih kuasa –sebab dia percaya pada reinkarnasi.

Lalu tiba satu ketika, kala seseorang datang, terluka sama parah hingga membuatnya iba. Baginya yang pernah jatuh, amat sakit ketika jatuh tapi tak ada yang memapah. Untuk itu dia memapah orang itu berdiri, berjalan menelusuri meter, kilo hingga orang tersebut kembali tegak berdiri. Sebagai gantinya, dia yang kembali jatuh, hatinya jatuh.

Tapi dia sadar sekali bahwa jatuh cinta itu tidaklah sakit, sebab hanya tindakan pribadi, keinginan memiliki dan dicintai lah yang berpotensi melukai. Sayangnya, dia merasakan keduanya, tidak ada yang biasa sejak seseorang itu mengisi kepalanya. Kepalanya yang penuh itu diacak-acak, logikanya, akal sehatnya mengambang, kepalanya dibanjiri seseorang. Sekali lagi, ini bahaya bagi orang yang lupa caranya merasa –atau letih merasa.

Sayangnya seseorang itu belum tahu atau barangkali tahu tapi sengaja menutupi. Sedangkan dia pun memilih diam, padahal isi kepalanya sudah berontak ingin keluar. Kamu mungkin mengerti rasanya menahan diri ketika kepalamu amat penuh. Sakitnya pindah ke dada. Tapi lagi-lagi, beberapa hal memang sebaiknya dibiarkan berlalu begitu saja.

Kamu mungkin bertanya lalu bagaimana seseorang itu? Seseorang itu ada disampingnya sekarang. Aku sebagai dia dan kamu sebagai seseorang itu. Barangkali memang cukup seperti ini, cukup untuk kita sama-sama sadar bahwa kita saling membutuhkan. Aku membutuhkanmu lebih dari sekadar tubuh, aku membutuhkanmu yang tabah menyikapiku. Itu saja cukup, bagiku.

Kita memang tak mampu mengulang waktu, tapi karenamu aku semakin bijak memanfaatkan ingatan untuk setidaknya merekamnya dalam-dalam dikepala.

Aku senang, semoga kamu pun begitu.

Advertisements

Pukul Dua

Jika harus menjadi musim,
kau ingin jadi musim apa?
Kemarau atau penghujan?
Bagaimana kalau menjadi musimku saja.
Musimku sepanjang kemarau hingga habis waktu bumi mendamba hujan,
musimku sepanjang tanah retak hingga jalanan rusak oleh genangan air kenangan.

Jika kau menjadi bagian dari udara (ku),
kau ingin menjadi gas apa?
Oksigen ?
Nitrogen?
Karbondioksida?
Karbonmonoksida?
Atau apa?
Sepertinya kau menjadi oksigenku saja.
Tapi mengingat jumlahmu yang tak seberapa, kadang aku suka kasihan jika harus menghirupmu berlebihan.
Kemarin, apa yang telah kau lakukan saat sesak dada hingga tersenggal napasku?
Jika bukan kau,
lantas siapa yang akan mengisi setiap rongga di peparu?
Memang sifatmu atau inginmu, yang lebih mudah larut dalam air, mataku.

Jika menjadi buku,
kau ingin menjadi buku apa?
Jadilah bukuku yang tiada habis kutulis segala tentangmu.

Jika menjadi angka,
kau ingin angka berapa?
Berapapun yang kau mau,
jika ganjil  aku akan menggenapimu,
jika genap aku akan menunggalkanmu, apapun caraku.

Jika menjadi waktu,
kau ingin menjadi pukul berapa?
Kalau aku,
aku hanya ingin menjadi pukul dua malam mu.

Kelak?

Malam ini, aku bercakap dengan pikiranku sendiri membicarakan tentang kita kelak disuatu masa.


Aku membayangkan tentang sebuah rumah dengan sebuah perpustakaan kecil di dalamnya, menyimpan buku-buku kesukaan kita. Dimana karya Chairil, WS Rendra, Sapardi, Putu Wijaya, Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Ajidarma, Kahlil Gibran, Andrei Aksana, Joko Pinurbo dan lainnya akan memenuhi setiap rak-raknya. Kelak setiap akhir pekan kita akan menghabiskan waktu berdua saja, tenggelam dalam buku yang kita baca dan kita semakin dipeluk erat oleh cinta.


Kelak kita akan melewati malam-malam yang dipenuhi tawa saat kau menyanyikan lagu-lagu kita dan aku menyiapkan secangkir kopi hangat di meja. Lalu kita tenggelam pada suatu masa yang paling menghangatkan dada.


Aku membayangkan di suatu hari yang hujan, ketika tubuhku telah renta dan tak lagi mampu menari di bawah rinaninya, kau mengajakku duduk di beranda menikmati secangkir coklat hangat berdua. Lalu kau bercerita perihal hujan, dan bagaimana berbahagia dengannya tanpa harus kebasahan. Kita akan mengenang kembali masa-masa saat tubuhmu memeluk erat tubuhku yang menggigil kedinginan dan kita hanyut dalam ciuman-ciuman.


Bersamamu aku akan selalu menuliskan puisi setiap hari, malam setelah kau tidur. Aku kan mengganti wallpaper laptopmu dengan puisi, agar saat kau bekerja dan membuka laptop; kau akan mengingat aku sebagai seseorang yang teramat mencintaimu, seseorang yang begitu ingin melihat kau selalu berbahagia.


Aku ingin memiliki rumah yang akan selalu kita rindukan, karena dipenuhi cinta dan tawa anak-anak di dalammnya. Agar saat kita jauh, kita tidak akan pernah berpikir untuk menjauh. Yang kita pikirkan adalah pulang, pulang pada cinta, pulang pada pelukan yang nyaman, pulang pada kedamaian yang tidak akan pernah kita temukan kecuali di rumah kita.


Kau tahu, bahwa hanya dengan membayangkanya saja aku telah cukup merasa bahagia. Aku telah cukup merasa memilikimu dalam seluruhku.


————————–


Aku terlalu menyakini bahwa kau bisa membaca segala rasa di dalam hatiku menyakini bahwa apa yang menjadi keinginanku dan keinginanmu adalah sama. Namun kini tiba-tiba aku merasa begitu takut, aku takut kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku miliki, sesuatu yang begitu jauh namun telah melemahkanku.


Kau begitu tinggi, tanganku tak sanggup menggapai, langkahku tak sanggup mengimbangi. Aku hanyalah seseorang yang rapuh, aku begitu takut jatuh. Maaf bila akhirnya aku memilih berdiam, dan mendekapmu hanya dalam ingatan. Aku memilih untuk menjauh, karena aku bukanlah pejuang yang tangguh.



Terima kasih telah membuatku merasa begitu bahagia dengan membayangkan hari tua yang kita lewati bersama.

Terima kasih sudah memberiku tawa meski tidak untuk selamanya.

Selamat menderas, Hujan

​Salam deras, hujan..

Aku senang dengan keberadaanmu. Berulangkali aku jatuh cinta, dan selalu jatuh cinta untuk datangmu. Menjadi tenang dan kelegaan bagi kerontang. Rumput di makam pamanku tak lagi kering, malah menjadi rimbun subur karena cukup minum. 

Beberapa hari ini, kau datang bertubi-tubi menyebar deras. Dari tanah ibukota hingga pelosok desa. Dari ibukota, aku menyambutmu dengan tawa. Mengaminkan berkah yang turun sebanyak-banyaknya. Aku bersyukur tanahku masih sanggup menyimpan berjuta tetes kamu. Masih mampu menampung jejatuhanmu walaupun sudah sedikit tanah merah yang bertelanjang dada, yang lama tak dibiarkan bernafas bersama rumput dengan bebasnya, yang lapang dadanya ditutupi beton-beton kuat, yang merah rupanya menjadi hitam aspal. Itulah sebabnya aku bersyukur karena hujan masih menjadi deras saja.

Tapi Hujan, bagaimana aku bisa bahagia dengan keadaan di desa sana? Kau lihat kan?  Jatuhmu yang cukup lama menimpakan sukar bagi penghuninya. Sebentar, apa salah para petani cabai itu? Kenapa Kau marah pada mereka? Sampai-sampai kau jadikan hujan sebagai ujiannya? Cukuplah kali ini saja, hujan. Cukup. Sudah ada banyak tangis dari isteri mereka, anak mereka yang menangis kelaparan karena kebun cabai mereka kau jadikan busuk wujudnya. Panen mereka gagal. Harapan mereka…. Ah, sudahlah. Cukup.

Hujanlah saja untuk berkah. Terima kasih untuk peringatanmu. Semua ini, musim yang semakin aneh ini memang kesalahan kami para manusia yang pelupa dan tak juga puas ini menaruh sadar untuk lebih mencintai bumi dimana tempat kami hidup dan melanjutkan degup.


Selamat menderas. Selamat menyiram dengan puas. 

Salam, penjejak tanahmu

Ketika Nanti Jatuh, Cinta

Aku masih ingat apa yang terjadi padamu hari itu. Pada setiap pembuluh darah dibalik kulitmu. Pada setiap embusan napas yang ditampung peparumu. Pada elemen termungil hingga raksasa dari raga bahkan jiwa. Pada luasnya hamparan duniamu.

Semua orang pasti bicara cinta yang berbunga-bunga. Cinta yang hanya dirangkum oleh sepotret senyum dan tawa. Cinta yang membuat manusia terpingkal-pingkal.

Tapi tidak untukmu.

Kamu tidak pernah memercayai adanya cinta pada pandangan pertama. Walau sedari awal kehadiran dia sudah kamu markahi dengan sebuah tanda bintang, tanpa pernah kamu tahu alasannya. Hari-hari terlewati dengan biasa saja. Kamu hadir untuknya atas nama perkenalan yang terjadi secara alami tanpa campur tangan kesengajaan. Kamu tahu tidak ada hal yang sama sekali salah mengenai berbagi dan meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang segala-galanya.

Hingga hari itu tiba.

Kamu akhirnya menyadari perubahan struktural yang terjadi dari ujung kepala hingga ujung kakimu, dari ujung kenangan hingga ujung angan-anganmu. Bukan tentang detak nadimu yang lincah. Bukan tentang pupil matamu yang melebar. Bukan tentang pita suaramu yang kehabisan nada. Bukan tentang sistem otot yang kadang kehilangan kuasanya.

Kamu mulai bertanya, mengapa kamu ada untuknya ketika orang lain tidak? Mengapa kamu mendengarkan setiap kalimat yang dia nyatakan ketika orang lain mengacuhkan? Mengapa kamu dengan tabah meluruskan kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat ketika orang lain hanya bisa menghina? Mengapa kamu memaklumi lika-liku jalan pikirannya ketika orang lain malah mengabaikan? Mengapa kamu bisa membagi duniamu yang tanpa batas dengannya ketika orang lain sekadar bercerita lalu mundur? Mengapa kamu masih saja menghadirkan panca indera bahkan intuisimu untuknya ketika orang lain hanya memilih bicara seperlunya lalu pergi? Mengapa kamu bisa menerima segala yang ada dalam dirinya ketika orang lain tidak henti-hentinya menggarisbawahi kekurangannya?

Kamu tidak mengerti. Kamu bahkan tidak tahu jawabannya.

Pada saat yang sama kamu pun menemukan kenyataan yang manis, sekaligus getir. Ada jaringan nirkabel antara kamu dan dia. Kamu beranjak mengingatnya lebih banyak dan mengerti semuanya tanpa butuh sepatah kata.

Kamu menemukan bagian dirinya ada di dalam dirimu. Jauh di suatu tempat yang tidak tersentuh seujung kukupun. Yang oleh karenanya, kamu sedih melihatnya berduka. Kamu tersenyum lantaran senyumannya. Kamu merasakan sakit yang dirasakannya, hingga kamu berharap jika saja ada satu kain magis tak bernama yang mampu mengusap air matanya sampai habis, kamu akan mencarikan itu untuknya.

Dan tidak lama kemudian, kamu memutar balik kejadian demi kejadian serupa sinema dimana ada dia sebagai bintang utama. Dari caranya melangkahkan kaki, melamun, intonasi suaranya, gesturnya sewaktu bicara, kepalan tangannya, hingga tatapan matanya yang selalu kamu balas dengan berani. Kamu berusaha mencari sesuatu disana. Bantuan. Petunjuk. Jalan keluar. Apapun yang bisa membebaskanmu dari ketidakmengertian itu.

Hingga tibalah kamu di dermaga tempat pikiranmu berlabuh. Kamu sadar jatuh cinta itu tidak menyenangkan seperti yang semua orang bilang. Karena kamu sudah tahu bahwa suatu hari nanti, pada waktu yang telah ditentukan, pada waktu yang tidak kamu ketahui kapan datangnya, pada waktu yang tidak bisa kamu tolak, dia akan hilang. Semesta akan mengambilnya darimu dengan alasan yang bermacam-macam. Kelak, kamu akan menyalahkan bergunung-gunung perasaan yang kamu timbun saat ini karena kamu akan sangat kehilangan. Kamu tidak akan baik-baik saja.

Kamu terduduk pasrah, dihadapkan pada fakta yang tidak terbantahkan oleh siapapun. Kamu mencintainya lebih dari yang kamu tahu.

Ingin sekali kamu mengirimkan berlembar-lembar surat permintaan untuk Tuhan agar Dia tidak menariknya dari hidupmu dan menghapus kata perpisahan dari buku cerita kalian di angkasa tertinggi sana. Bahkan, kamu rela mengajaknya mangkir dari garis takdir andaikan pada satu titik ternyata kalian ditempatkan berjauhan.

Sayangnya dunia ini tidak seindah nirwana. Padahal yang kamu minta bukanlah seribu candi dalam semalam.

Maka, kamu mulai mendirikan benteng penyangkalan, bata demi bata. Kamu mengabaikan senyumannya, gelak tawanya, bahkan kesediaannya untuk mengerti kamu. Hanya demi mengingatkan setiap atom di dalam dirimu untuk tidak jatuh cinta.

Tapi kamu tahu semua itu mustahil, karena kamu jatuh tanpa sengaja. Kamu hanya sedang berjalan di setapakmu dengan hati-hati, berusaha sekeras mungkin untuk menghindari lubang dan jurang, tapi kamu jatuh. Terjun bebas. Tanpa sepasang sayap ataupun tali pengaman.

Di dasar yang teramat dalam, kamu sadar kamu telah jatuh cinta jauh sebelum kamu menyadari itu. Kamu sendirian disana, tanpa ditemani ruang dan waktu.

Kamu mencintainya tanpa perlu apa-apa.

Memahami Ketidakpahaman

Dalam berumah tangga, suami dan isteri harus berusaha untuk saling memahami. Tebalkan dan beri penekanan pada kata ber-u-sa-ha.

Jika sudah dialami, sebenarnya memahami itu bukan proses mudah. Derajat memahami berbeda dengan mengetahui dan mengenali. Memahami tidak selesai di titik, “Okay, kebiasaan dia adalah suka tidur pakai kaos kaki.” Memahami adalah, “Dia merasa nyaman jika tidur dengan kaos kaki karena itu menghangatkannya, itu sebabnya dia selalu melakukannya.”

Memahami melibatkan empati dan emosi, bukan hanya kognisi. Dan itu butuh proses belajar sepanjang hayat. Tidak selalu berhasil, tidak semuanya bisa dipahami. Karena itu, saya pun memberi penegasan di paragraf pertama soal usaha.

Usaha pasangan dalam memahami kita pantas kita apresiasi. Meski ada banyak sekali persoalan, yang bagaimana pun pasangan kita berusaha memahaminya, ia akan terhenti di depan pintu dan kembali tampa menemukan jawabannya.

Kalau sudah demikian, tersisa satu cara untuk tetap menjaga keseimbangan keluarga yaitu dengan memahami ketidakpahaman pasangan kita.

Laki-laki mungkin tidak akan paham bagaimana kompleksnya emosi isterinya yang baru melahirkan. Laki-laki juga tidak akan paham mengapa perempuan suka bercerita, juga mudah menangis, tapi di lain waktu begitu galak.

Maka perempuan tak perlu menjadikan ketidakpahaman suami tersebut sebagai tanda genderang perang dunia ketiga. Dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki, pahami dulu itu. Agar perempuan bisa melapangkan hati memahami ketidakpahaman suaminya.

Perempuan mungkin tidak paham mengapa laki-laki masih senang bermain seperti anak-anak bahkan ketika dia sudah menjadi seorang ayah.

Maka laki-laki tak perlu menjadikan ketidakpahaman isterinya tersebut sebagai korek api di ladang jerami. Dunia laki-laki berbeda dengan dunia perempuan, pahami dulu itu. Agar laki-laki bisa melapangkan hati memahami ketidakpahaman isterinya.

Perempuan dan laki-laki tidak perlu memasang standar yang sama terhadap pasangannya dalam beberapa urusan yang memang tidak bisa di satupahamkan.

Memahami ketidakpahaman pasangan terhadap keunikan karakter kita pun adalah proses yang mesti diusahakan dan dipelajari terus menerus.

Penerimaan adalah hulunya. Pantas untuk diingat, bahwa saat kita berkata “Aku menerimamu,” itu juga berarti, “Aku menerima kemungkinan bahwa kamu tidak bisa selalu memahamiku dan duniaku, sebagaimana aku pun tidak selalu bisa memahamimu dan duniamu.”

Namun, selama pasangan kita menunjukkan usaha untuk memahami kita, sepatutnya kita menghargainya dan menunjukkan usaha yang sama untuk memahaminya. Selama kita tidak tergesa-gesa, tidak saling menuntut untuk bisa dipahami dengan cepat.

Sebab, bukankah kita masih punya waktu seumur hidup bersamanya jika Allah menakdirkan? Rasanya, itu waktu yang cukup bagi kita untuk terus belajar memahami satu sama lain, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, dari windu ke windu, dari dasawarsa pertama ke dasawarsa selanjutnya.

Bukankah demikian?

Kepada Anak-Anakku, Dimana Segala Kebahagiaanku Bermuara

Kepada anak-anakku tersayang, kelak…

Yang adalah sebuah anugerah dan maha karya yang luar biasa, yang adalah sebuah mimpi yang kugenggam erat dihatiku.

Anak-anakku, surat ini ibu tulis untukmu jauh sebelum kau terlahir, bahkan saat ketika belum kutemui pemilik rusuk yang ada pada ibumu (jangan menertawainya, ya). Sedikit hal yang perlu kalian tahu, ibu memang seorang pemimpi ulung tapi percayalah ibu telah semampunya berikhtiar dan berdo’a sebanyak yang ibu bisa.

Anak-anakku, kesayangan ibu…

Kelak, ibu berharap “hari itu” akan datang, saat ibu memiliki kalian dan membesarkan kalian dengan segala cinta yang ibu miliki. Ah, ibumu ini memang berlebihan, berharap memiliki buah hati lebih dari seorang disaat ayah kalianpun ibu tak tahu. Namun mau bagaimana, ibu sangat bermimpi memiliki kalian bertiga.

Tentang kalian, mungkin itu masih melampaui mimpi ibu. Maka biarkan ibu bercerita tentang seorang lelaki yang ibu berharap dialah kelak menjadi imam dikeluarga kecil kita.

Anak-anakku,  kebahagiaan ibu…

Ibumu ini hanyalah perempuan biasa, mungkin sangat biasa untuk ukuran seorang lelaki yang ibu harapkan saat ini. Sering ibu berpikir, hal apa yang akan membuatnya merasakan yang ibu rasakan? Dia lelaki yang baik, di mata ibu malah begitu teramat baik. Untuk bersandingan dengannya? Ah, apalah ibumu ini, nak. Tapi apa daya, ibu telah jatuh hati padanya sebanyak yang ibu pun tak bisa mengukurnya hingga membuat ibu tak pedulikan siapa ibumu ini. Nak, untuk itu ibu teramat meminta maaf karena telah terlalu berharap tinggi dan memaksakan kehendak ibu hanya demi memenuhi perasaan ibu.

Anak-anakku…

Ibu yakin kalian pun berharap sama dengan ibu bukan? Tetapi sekali lagi maaf, jika ibu tak bisa berjuang sebagaimana mestinya. Ibu hanya bisa menunggu sembari berdo’a. Didetik ini lelaki itu menempati semua ruang untuk cinta ayah kalian kelak. Maka untuk penantian ibu, maaf membuat kalian ikut menunggu lama. Ibu sungguh minta maaf, tapi percayalah kalian adalah harapan yang begitu ibu rindukan.

Sampai berjumpa, nak.

Sebisa usaha yang ibumu mampu, kita akan bertemu.


Memeluk kalian dengan bunga setaman,

Ibumu.

Surat dari Masa Depan

Maaf kalau aku lancang menulis surat ini. Bukan bermaksud mendahului takdir Allah. Hanya ingin menyapaikan sebuah harapan.

Tadinya aku ingin menulis surat ini pagi-pagi. Namun, ternyata baru punya waktu luang malam hari. Memang benar kata orang bahwa pekerjaan ibu rumah tangga itu tak cukup 24 jam untuk menyelesaikannya. Apalagi si kecil sekarang sedang aktif-aktifnya. Tak boleh lengah sedikit saja mengawasi tiga krucil itu.

Tiga? Iya, dua anak laki-laki dengan satu adik perempuan. Sebagaimana harapanmu. Si kakak yang sudah masuk TK, adiknya yang berumur 4 tahun, sedang si bungsu yang masih berumur 2 tahun. Sedang lucu-lucunya. Dua jagoanmu sangat suka bermain di halaman belakang rumah bersama ayah mereka. Mencari cangcorang atau kumbang-kumbang kecil yang kini menjadi sahabat imajinasinya. Sementara si adek, yang perempuan, lebih suka menggambar bunga-bunga atau kupu-kupu bersama ibu. Menggemaskan sekali melihat ekspresinya ketika sedang menyelesaikan lukisan hasil karyanya. Lukisan ala bocah dua tahun, tentu saja. Kau tahu, tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang ibu selain melihat anak-anaknya tumbuh dengan sehat, pintar, juga bahagia.

Sampai disini kamu pasti penasaran dan bertanya-tanya. “Siapa ayah mereka?”

Hmm, kalo soal itu, rahasia! :))

Baiklah, aku beri sedikit bocoran. Dia juga sebagaimana harapanmu. Adalah seorang pria yang dewasa, pintar, gigih, tulus hatinya dan yang paling penting dia selalu membuatmu tertawa. Hmm, yang jelas, bagiku, dia adalah seorang yang hebat. Tuan hebat, sebut saja begitu. Bersamanya, aku jadi merasa seperti orangtua yang sangat aku inginkan semasa kecil. Begitupun yang dia inginkan. Walau kami tidak memiliki panutan sebagai ibu atau ayah yang baik, tapi berkat kehendak Allah, kami bersama-sama berusaha menjadi orangtua yang terbaik untuk ketiga buah hati kami. Adalah sebuah harapan lama kami yang sangat menginginkan keluarga yang hangat serta bahagia.

Begitulah rencana Allah. Sangat indah. Semua kebahagiaan yang ada mengajarkan agar kita senantiasa terus mendekatkan diri pada-Nya, bersyukur dan terus berdo’a. Agar kita tetap termotivasi untuk selalu memperbaiki diri demi hidup yang lebih baik.

Ah! Keasyikan cerita, sampai lupa. Tujuan surat ini sebenarnya adalah ingin minta tolong kepadamu. Sebagaimana yang telah aku ceritakan, saat ini aku bahagia. Sangat bahagia malah. Namun tentu saja, semua ini tidak akan pernah bisa aku dapatkan tanpa bantuanmu. Kau pasti sering dengar kan, bahwa apa yang kita lakukan dimasa kini akan menentukan nasib kita di masa depan.

Aku, adalah dirimu di masa depan. Dan kamu, adalah diriku di masa lalu. Nasibku, bergantung padamu. Oleh sebab itu, aku mohon dengan sangat kepadamu. Please… Tolong tinggalkan kebiasaan bermalas-malasan. Melihatmu sekarang ini, aku jadi skeptis Tuan Hebat akan bersedia menikahimu.

Itu saja permintaanku. Dengan surat ini, semoga kamu segera tergerak untuk meninggalkan semua kebiasaan burukmu. Niatkan itu segera setelah kamu selesai membaca surat ini.

Aku,

Dirimu di masa depan.

Kepada yang Menjadikanku Tujuan

Kamu, apa kabar?

Aku rindu.

Demikian rindu hingga menjelaskan seberapa rindunya pun aku kesulitan. Kadang rinduku gamang, sebab ia tak punya tuan. Kadang resah, seperti ingin pulang tapi tak punya rumah. Kadang melayang-layang mencari daratan. Demikian seringnya ia membersamaiku, tapi tanpamu.

Aku sedang tak ingin mencoba mencarimu lagi. Mungkin lelah. Sebab mereka yang kukira kamu terlalu sering membuatku jengah. Kupikir mereka yang akan menjadikanku tujuan, tapi ternyata hanya singgah. Sementara sulit bagiku mengosongkan tempat persinggahan itu. Jejak yang mereka tinggalkan kadang jadi kerak.

Kamu bagaimana disana?

Kemarin lalu ada bau tubuh baru mampir di hidungku. Dia itu kamu, bukan? Sebab jika bukan, takkan kubiarkan bau tubuh itu mengendap di paru-paruku. Takkan lagi ada tugas membersihkan kerak jejak di agendaku. Jika memang kamu, menetaplah. Pulanglah kerumah.

Meski kadang rindu ini membuatku susah tidur, kamu harus tahu, ia takkan merentang dari hari-hariku. Ia enggan padam sebelum kamu datang. Demikian besarnya aku merindukanmu dengan segala penantianku.

Aku rindu.

Demikian suratku.

Haruskah Semua Begitu Sempurna?

Aku mulai tak berhenti membayangkannya:

“Haruskah semua begitu sempurna?

Sebuah rumah mewah berlantai dua, satu set sofa nyaman ala Eropa, terbentang kolam renang di halaman belakang.

“Haruskah semua begitu sempurna?

Disalah satu sisi rumah ada sebuah garasi cukup untuk mobil tiga, tak lupa satu home theater di ruang keluarga. Lalu tempat tidur besar nan empuk rasa surga, serta bath tub di tiap kamar mandi untuk berendam lama-lama sambil mendengarkan musik atau membayangkan di restoran mana kita akan makan malam dan habiskan waktu bersama.

“Haruskah semua begitu sempurna?”

Sepasang cincin harga delapan digit melingkar di masing-masing satu jari manis kita. Sebuah prosesi seserahan segala ada, sebuah pesta besar sehari semalam penuh canda tawa. Didramatisir dengan do’a-do’a dan jabat tangan ribuan kerabat, ratusan kado, tangis haru bahagia keluarga.

Aku merenung sendiri.

“Haruskah semua begitu sempurna?”

Sementara apa yang kucintai darimu adalah ketidaksempurnaanmu.

“Haruskah semua begitu sempurna?”

Sementara kita tak pernah tahu apakah kesempurnaan selalu mengantar kita pada kebahagiaan.

Tidakkah semestinya segalanya sederhana saja. Sesederhana diriku, dirimu, sesederhana cinta itu sendiri. Karena bahkan senyum yang kau hadirkan setiap hari sudah terlalu mewah untuk dibandingkan dengan segala yang ada di bumi, yang bisa maupun tak bisa kita beli. Karena bahkan tatapan yang kau hadirkan lebih meneduhkan dari rumah mewah tipe apapun, dengan harga semahal apa pun.

Jadi,

“Haruskah semua begitu sempurna?”